Dear blog,
Sebenernya gue lagi pengen nulis, tapi begitu laptop udah di atas paha, jari-jari udah di atas keyboard, mata tertuju ke monitor, otak gue langsung blank. Gue langsung ga tau mau nulis apa lagi.
Kejadian kaya gini udah sering banget, itu yang bikin gue pada akhirnya jarang ngeblog lagi. Pada awalnya gue mengira ini hanyalah fase writer's block. Tapi kayanya terlalu lama juga buat berada di fase writer's block.
Yang ada di pikiran gue selanjutnya adalah, bisa jadi karena gue terlalu asik menggunakan otak gue untuk berpikir di pekerjaan yang lagi gue gelutin. Di pekerjaan gue, otak gue dituntut buat berpikir terus dalam waktu yang cepat, jadi ada kemungkinan pada saat malem-malem gue pengen nulis sesuatu, otak gue udah keburu capek. Dan itu adalah jawaban paling logis dari otak ngeblank gue.
Mungkin, gue harus berpikir lebih ringan lagi, mumpung lagi libur juga. Gue harus mulai mengistirahatkan otak gue dulu, dan ga terlalu keras digunakan untuk berpikir. Karena gue pengen terus nulis blog gue.
Dan semoga jarak antara tulisan terakhir gue ini ke selanjutnya ga terlampau jauh, semoga.
Regards,
Bagus Saptopo
Sunday, January 3, 2010
Kapasitas Otak yang Terkuras
Wednesday, November 25, 2009
Apa kabar?
Mendengar pertanyaan pacar yang simple, tapi cukup menggugah gue, "Blog kamu apa kabar?"
Gue langsung inget: gue punya blog yang udah ga keurus.
Lagi-lagi alasan gue jarang ngeblog lagi adalah alasan yang sangat amatlah klasik: SIBUK. Yah, tapi emang kenyataannya gue bener-bener sibuk, sampe gue harus melupakan blog gue ini untuk sejenak. Beruntung sekarang gue lagi menikmati hari libur gue dari pekerjaan, dan menyempatkan diri untuk duduk sejenak di depan komputer (yang udah lama juga ga gue pake) untuk mengetik kembali di blog gue.
Well, apa kabar blog gue?
Tuesday, July 7, 2009
Surat Pernyataan
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta/07 Oktober 1986
Pekerjaan: Calon Presiden Indonesia tahun 2039
Prestasi: Juara Mewarnai TK Tadika Puri
Bahwa, dengan ini saya menyatakan akan menyontreng pasangan Ken Arok-Mpu Gandring pada pemilihan presiden tanggal 08 Juli 2009. Alasan-alasan yang membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk memilih pasangan Ken Arok-Mpu Gandring adalah:
- Tokoh sejarah yang fenomenal.
- Pendiri Kerajaan Tumapel (Kemudian dikenal dengan Singasari).
- Tukang rebut istri orang (ngerebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung).
- Jagoan.
- Punya kerisnya Mpu Gandring.
- Mempunyai jiwa yang licik (mengkhianati Kebo Ijo).
- Raja dari kalangan rakyat jelata tapi memiliki keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata.
Ngomong-ngomong Ken Arok-Mpu Gandring nomor urutnya berapa ya?
Bagus Saptopo
(ini saya gimana tanda tangannya???)
Thursday, July 2, 2009
Huai!
Huai! Bukan Huawei! Sudah lama gue ga ngupdate blog ini. Apa kabar ya blog ini? Untungnya ini sebuah blog, jadi ga bakal berdebu biar udah ditinggal lama. Hehehe.
Oke, to the point. Sekarang gue lagi di Jakarta. Menikmati libur gue setelah bulan lalu gue keliling ke sana kemari. Ke tiga kota yang berbeda, dan itu menjadi sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan.
Pertama seperti biasa gue ke Cilacap. Gue ke Cilacap untuk menyelesaikan beberapa masalah yang ada di server Maximo PLTU Cilacap. Ternyata setelah pawangnya dateng, si server ga rewel lagi. Ga mati-mati lagi kaya pas gue tinggalin. Sip deh.
Kedua, gue ke Surabaya. Gue sedikit shock pas diterjunin ke Surabaya. Kenapa shock? Karena gue dicemplungin ke sebuah proyek yang sedang berjalan, dan lebih tepatnya sudah akan Go Live (selesai, -red.). Dan yang lebih parahnya adalah gue dicemplungin sendirian tanpa rekan kerja satu pun dari kantor gue. Parah! Parah! Parah!
Tapi gue tetap menikmati perjalanan dan perjuangan itu. Dan pada akhirnya gue bisa menikmatinya. Sungguh-sungguh menyenangkan! Gue menemukan sebuah pengalaman baru yang luar biasa! Dan pada akhirnya ke Surabaya membuahkan hasil pada mental kerja gue. Semangat bekerja gue menjadi berapi-api. Seperti terisi kembali oleh sebuah energi yang gue ga bisa menggambarkannya dengan detail. Pokoknya hebat deh!
Ketiga, gue ke Paiton. Banyak yang bertanya ke gue, apa itu Paiton? Oke, Paiton itu adalah sebuah daerah di Porbolinggo. Terkenal dengan PLTUnya yang ada 6 unit plus 2 unit sedang dalam tahap pembangunan. Dan kedelapan unit itu dikelola oleh 4 perusahaan yang berbeda. 2 dari negeri sendiri, dan 2 dari asing.
Nah, kantor gue lagi ada proyek di salah satu perusahaan asing tersebut. Jadilah gue selanjutnya terdampar di Paiton. Dan hebatnya, fasilitas dari perusahaan tersebut benar-benar sangat lengkap. Selain kantornya yang canggih banget, fasilitas tempat tinggal yang diberikan sangatlah luar biasa. Udah kaya cottage dengan fasilitas arena rekreasi dan olahraga lengkap. Ohya, makan juga dapet 3x sehari, gratis! Ihiy!
Yah, dari perjalanan gue kemaren gue dapet banyak pelajaran lah. Salah satunya adalah gue menyadari bahwa bumi itu bulat. Oke, serius, gue bener-bener bersyukur atas segala nikmat yang udah dikasih Allah ke gue. Allah punya jalan, Allah punya cerita, dan Allah punya hadiah.
Satu lagi, gue udah Wisuda!
Thursday, April 30, 2009
(Hujan + Petir) x Mati Lampu = Horor masa kini
Dua hari yang lalu, tepatnya hari Senin malam, gue masih sendirian di mess kantor (berupa sebuah rumah kontrakan di suatu perumahan di daerah Cilacap). Sendirian di rumah udah biasa buat gue, tapi yang bikin ga biasa adalah datangnya hujan deras beserta petir yang sangat tiba-tiba. Tarrrrrr! Begitu bunyinya.
Gue langsung colokin earphone di laptop gue, mendengarkan lagu-lagu yang tenang untuk mengalihkan gue dari suara petir yang sangat menggelegar. Hal berikutnya yang gue ga harapkan terjadi adalah listrik mati. Dan ternyata bener aja, tiba-tiba pas gue lagi asik-asik main laptop sambil dengerin lagu, pett! Lampu, tv, AC, dan alat-alat elektronik lainnya (kecuali laptop sama hape) langsung kehilangan daya magisnya.
Sumpah gue shock, kaget, dan jujur aja, KETAKUTAN. Ditambah efek cahaya yang timbul dari layar laptop gue, bener-bener bikin suasana makin muram. Apalagi kalo udah ada cahaya petir yang masuk dari sela-sela ventilasi, lebih baik gue pingsan di tempat.
Entah karena terpacu oleh adrenalin atau emang ketakutan, tiba-tiba insting bertahan hidup gue jalan. Gue langsung matiin laptop, nyari hape, dompet, jam, plus kunci penyelamat gue dari kegelapan ini: kunci mobil. Gue langsung buka garasi, dengan muka stay cool karena diliatin tetangga depan dari balkon gue berusaha keluiatan seolah ga terjadi apa-apa sama gue, gue buka garasi dengan tenang. Efek petir kali ini ngebuat gue keliatan kaya psikopat yang abis memutilasi korbannya dan ingin segera membuangnya ke lautan. Biarpun keliatannya kaya gitu, tapi aslinya gue lebih mirip sama banci ketakutan di Be a Man. Gue juga berharap kalo misalnya gue kesamber petir, gue bisa akhirnya bisa beneran berubah jadi Gundala Putra Petir.
Gue nyalain mobil, masukin gigi satu, dan langsung mengeluarkan mobil dari garasi. Berbekal payung imut berwarna ungu, gue keluar mobil untuk menutup garasi lagi. Anginnya kenceng banget, yang menyebabkan kaos gue sedikit basah. Selesai menutup garasi, gue balik lagi ke mobil. Pas naik mobil dan mau nutup payung, entah kenapa payung janda itu susah banget ditutup. Kampretnya, celana pendek gue langsung basah kuyup. Di saat kaya gini, gue ngerasa pelarian gue bakal percuma kalo celana basah kuyup kaya gini. Tapi insting mengalahkan logika, gue tetep pengen keluar dari situasi horor kaya gini.
Jalanan komplek yang lagi mati lampu ditambah ujan yang deres banget, bikin suasana makin kaya di film-film horor lebay Indonesia. Yang gue takutin adalah, tiba-tiba di dalem mobil ada penumpangnya. Beruntung setan-setan juga pada neduh (entah neduh di warung rokok, di halte, atau di bawah pohon sambil mesum), jadi ga ada yg nebeng naik ke mobil gue.
Nemuin jalan raya yang besar merupakan berkah tersendiri buat gue, gue melihat lampu-lampu jalanan bersinar terang. Bener-bener merupakan jalan pencerahan buat gue. Berhubung perut gue laper, gue brenti di sebuah tempat makan. Masalah timbul lagi, gimana gue keluar dari mobil tanpa basah menggunakan payung imut? Dan bener aja, pas gue keluar pake payung imut itu, baju gue langsung basah lagi. Alhasil bukannya dilayanin sama pegawai tempat makan, hal pertama reaksi mereka adalah menertawakan gue. Asu.
